Tuesday, October 21, 2014

ke ti ka

ke ti ka fatwa kau jadikan sebagai alat perebut kuasa

gerombolan anak manusia lacur dalam arus

limbur menggelora

sementara yang lain berlarian dengan kaki berdarah tusukan kaca

aku lelah

dengan hingar bingar teriakan penjual nama

yang menjanjikan masa depan dengan cermin buram masa lalu

yang muram

tak seberapa bersih dari noda

anjing terkekeh bercadar citra

sang raja melolong

mengancam pemilik gua kecil dengan adidayanya

lacak jejak mengalih perhatian seluruh penghuni rimba mala

agar mereka tak mengoceh lagi tentang kesepakatan yang maya

dan janji kian menyublim dalam panas udara

ke mana aku mesti bertanya

perihal cara penghapus duka penanti surga

dan perempuan - perempuan penjual lenguh

yang tertawa dalam rekayasa

saat erangan menjadi lagu abai yang biasa

hanya jadi senandung pengiring mandi pemilik tahta

yang di tanah jerih, yang di langit masih terlena

pun tubuhku zahir - baru bernafas pada masa sabda raja bisa

mematikan sesama saudaranya

masih pedih bersenggama

dengan duka dan luka masa lalu tanpa jeda

Monday, September 17, 2012

Serasa Milik Berdua

Cowok : YaNk.... qAmUh taO apPaH.....?
Cewek : ApPah...?
Cowok : AppAH.....?
Cewek : ApPaH.....???
Cowok : QamuH tAo kEnaPpaH jeMbaTan RunTuH?
Cewek : KenNnaPpaH.....?????
Cowok : KarEnaH aqUh leWaT saNnAh, daN QaMuH.......... terLaLuh bErAt dee p'KiRaNd aQuH :*
Cewek : OwwwWWhhH cO cWeeeeEEEt! :*

"INDONESIA" #runtuh



Feny Felia Sarda


Tradisi Musiman Kota Samarinda (2)


Tradisi Musiman Kota Samarinda (1)


Suatu Hari di Bedugul


Senja, Mahakam, dan Islamic Center


Saturday, September 01, 2012

Jika dengan Jancuk pun Tak Sanggup Aku Menjumpaimu

jika dengan jancuk pun tak sanggup aku menjumpaimu
dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu

kau melengos dalam kajang lilin pertama
bulan berbunga di pucuk mahoni
ketika itu
dalam pasang sepiku
rindu bertikai tak pernah jerih
terhempas gelombang atas huma
kau tergelincir berpasang tawa
di sungai ciwulan
kampung naga
tasikmalaya
banyak orang pacaran
seabreg orang menikah
tapi segelintir yang sempat mengalami cinta

kini apa yang dapat teranyam dari anjing menggonggong
alas pandan wangi adalah anyam-anyaman duka citamu
sebelum langit menggulung tikar
sebelum desau mengulum kekasihmu yang menggelayut di ranting hujan

abad berlalu
desirnya nyiur menghadang buih
deburnya kungung di bui bunyi
tanpa jeruji
tanpa kasasi
hatimu beringas melembah ngarai
berlarian tak tentu kiblat
lebih bergegas ketimbang gema

o, andai sombong diperbolehkan
sudah tentu akan kusombongkan agama bapakku

dan jika dengan jancuk pun tak sanggup aku menjumpaimu
dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu


Sujiwo Tejo, 2011