Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, October 21, 2014

Bulan Merah

...ada sesuatu dalam petang itu, saat hitam meregang pada bulan yang merah. Dalam kabut, hawa hangat melamat senyap bersama sayap yang belum genap..... Ia berjalan gontai di atas do'a-do'a yang lirih.

Ada apa gerangan?

Orang bilang tidak boleh meragu pada Tuhan.

Ia terbiasa melacak jejak hingga seluruh elakannya hanya jadi kelakar yang hambar.
"Jangan pernah takut pada suatu yang belum nyata", ucapnya.

Lalu apa yang diadu? Bulan merah sebentar lagi berubah jingga.

Cahayanya akan berbaur bersama pekat, mereka seperti menyatu..... tapi tetap beda.

Ia masih berjalan gontai. Dengan ucap do'a lirih menyisir tapak ke arah surga yang bercabang.
Orang bilang, tidak boleh meragu, Tuan.



Bulan Merah, 8 Oktober 2014

ke ti ka

ke ti ka fatwa kau jadikan sebagai alat perebut kuasa

gerombolan anak manusia lacur dalam arus

limbur menggelora

sementara yang lain berlarian dengan kaki berdarah tusukan kaca

aku lelah

dengan hingar bingar teriakan penjual nama

yang menjanjikan masa depan dengan cermin buram masa lalu

yang muram

tak seberapa bersih dari noda

anjing terkekeh bercadar citra

sang raja melolong

mengancam pemilik gua kecil dengan adidayanya

lacak jejak mengalih perhatian seluruh penghuni rimba mala

agar mereka tak mengoceh lagi tentang kesepakatan yang maya

dan janji kian menyublim dalam panas udara

ke mana aku mesti bertanya

perihal cara penghapus duka penanti surga

dan perempuan - perempuan penjual lenguh

yang tertawa dalam rekayasa

saat erangan menjadi lagu abai yang biasa

hanya jadi senandung pengiring mandi pemilik tahta

yang di tanah jerih, yang di langit masih terlena

pun tubuhku zahir - baru bernafas pada masa sabda raja bisa

mematikan sesama saudaranya

masih pedih bersenggama

dengan duka dan luka masa lalu tanpa jeda

Saturday, September 01, 2012

Jika dengan Jancuk pun Tak Sanggup Aku Menjumpaimu

jika dengan jancuk pun tak sanggup aku menjumpaimu
dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu

kau melengos dalam kajang lilin pertama
bulan berbunga di pucuk mahoni
ketika itu
dalam pasang sepiku
rindu bertikai tak pernah jerih
terhempas gelombang atas huma
kau tergelincir berpasang tawa
di sungai ciwulan
kampung naga
tasikmalaya
banyak orang pacaran
seabreg orang menikah
tapi segelintir yang sempat mengalami cinta

kini apa yang dapat teranyam dari anjing menggonggong
alas pandan wangi adalah anyam-anyaman duka citamu
sebelum langit menggulung tikar
sebelum desau mengulum kekasihmu yang menggelayut di ranting hujan

abad berlalu
desirnya nyiur menghadang buih
deburnya kungung di bui bunyi
tanpa jeruji
tanpa kasasi
hatimu beringas melembah ngarai
berlarian tak tentu kiblat
lebih bergegas ketimbang gema

o, andai sombong diperbolehkan
sudah tentu akan kusombongkan agama bapakku

dan jika dengan jancuk pun tak sanggup aku menjumpaimu
dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu


Sujiwo Tejo, 2011

Wednesday, March 28, 2012

Tentang Rindu (3)

Rindumu menderas hujan. Dan aku telah meminumnya. Tapi aku tetap kehausan. Maka dari bibirku, reguklah air rindu sepuasnya, bahkan mengering kerontang hingga kita tak perlu kenal lagi apa itu bosan.
“…hingga kita tak kenal lagi apa itu kehausan. Karena rindu mengairi bibir kita, dalam jarak sekalipun.”
Apakah desah pagi adalah iringan sepi yang mengarak rindumu? Seperti menjarah gudang tak berisi, rinduku hanya menampar kosong di rengkuh jemari pagi. Maka, dekatlah padaku. Tak perlu raga nyatamu. Seteguk napas dari bibirmu cukup untuk membunuh rinduku.
Segera araklah dupa hangatmu, dan taburkan di kelopak mataku yang menyisir sunyi rindu. Rindu tetaplah rindu. Meskipun tiada bagimu, aku akan menjemputnya untuk ada, dan untukmu.
Rindu itu luka, ternyata….. Inilah kemanjaan siang yang mengusir terik kepongahan. Seperti tak kenal malu, rindu itu terjun bebas ke pangkuanmu.
“Kangen tauuu…!”
Diam dibelit semesta maya. Terbang rendah diantara nalar dan jiwa yang tak kompromi. Mencintaimu tanpa aku bertanya lagi. Cintaku bersembunyi pada arakan risau. Meniti tak pasti di jembatan hatimu.
Tak terbilang satu cintaku yang memanah palung hatimu. Tak terbilang setiap rinduku yang meletupkan napas keindahan di tapal batas penantianku; menunggumu.
“Haruskah kita acuh dan mengingkari rasa saling itu?”
Apakah aku ada di sana dalam memori pengembaraanmu? Jika iya, akan kukatakan cinta detik ini juga, lugas tanpa praduga. Tidakkah kau tahu? Malam-malamku selalu bersimbah keluh kisah yang menguras janji. Karena aku percaya, mencintaimu adalah pilihan dari setiap hidup yang kuyakini. Meskipun barisan waktu menjepitku dalam penantian tak bertepi.
Di pusat badai rasaku, kamu adalah perjalanan ketabahan yang menguras kewarasan, juga ingkar logika. Satu detik yang berlalu adalah buncah getar yang gemetar; demi dan atas nama keakuan perasaan; utuh tulus untuk bersamamu.
“Lebih karena mencintaimu adalah karunia, aku menanggalkan seribu alasan mengapa memilihmu —saat ini atau nanti.”
Penantianku bertekuk pada lipatan sunyi yang mencekik. Kuisap gerah yang telantarkan galau. Masihkah tanda cintamu untukku? Semoga, nyata.
“Kapan kau tepati janjimu?”

By. Moammar Emka
(Catatan ini merupakan kumpulan potongan beberapa tulisan di blog Moammar Emka yang sengaja saya disusun acak)

Sunday, March 25, 2012

Tentang Rindu (2)

Kembalilah seperti dulu, saat kamu melupakan waktu, demi sapa rindu hingga pagi menjelang #M. Kerinduan seperti bermata pisau, menusuk kegelisahan dengan telak di titik yang paling rapuh. Sialan! Meledaklah sebagai keindahan. Biarkan berhamburan di halaman kealfaanku. Kamu, rindu.
Yang paling menyesakkan, di tengah keramaian, rindu bertahta sebagai rasa yang bergaduh; menarikan luka. Sampai kapan kita bertukar rasa bisu? Sapa yang teretas, serupa daun kering di muram senja.
Sampai pertanyaan “sampai kapan” itu tak ada, aku akan terjaga; menunggumu dengan setia. Rindu itu luka, ternyata. Teruslah menjauh teruslah lukai aku dengan rindu sampai kamu bosan.

By. Moammar Emka
(Catatan ini merupakan kumpulan dari beberapa tweet di @moammaremka akun twitter pribadi Moammar Emka yang sengaja saya susun acak)

Saturday, March 24, 2012

Tentang Rindu (1)

Aku akan tetap di sini; menantimu hingga hilang akal, bahwa melupakanmu adalah caraku merindukanmu. Namanya juga cinta pandangan pertama. Belum tentu bertahan lama. Perjalanan, jawabannya. Namanya juga menunggu, ketabahan yang jadi jawabannya.
Aku terjebak di simpang jalan. Takut melangkah; berlawanan arah dengan jalanmu. Tahu apa aku ini tentang cinta sejati. Aku hanya tahu; mencintaimu. Dan itu yakinku. Selesai. Aku tak punya banyak janji selain mencintaimu dengan segala keterbatasanku. Kalau kurang, tolong kamu yang melengkapi.
Kepadamu, #M, kualamatkan setiap cinta yang terungkap lengkap dan setiap rindu terkuak berkerak.

By. Moammar Emka
(Catatan ini merupakan kumpulan dari beberapa tweet di @moammaremka akun twitter pribadi Moammar Emka yang sengaja saya susun acak)

Friday, October 14, 2011

.....yang tertinggal





Aku sudah terlalu sering
mati dalam mimpi.

Kemudian mendengar sapaan
angin dingin dari negeri yang jauh.

Di sana hanya ada teka-teki
yang lebih indah
daripada
jawaban penghibur.

Tapi ada kedamaian,
warna langit abu-abu,
dan mata mata yang syahdu.

Aku ingin kembali dalam mimpi,
walau mungkin
akan mati lagi.

00:56 am

Photography by. Lovelynda Laratiada

Sunday, October 09, 2011

Duka


Aku takut perlahan-lahan mati dibunuh sepi

Dengan tikaman angin dingin yang menusuk sampai ke tulang-tulang

Aku takut memejamkan mata dan tak bangun lagi

Menghilang tanpa cerita yang tak sempat tersampaikan

Suara kipas angin dan dan celah-celah jendela seperti tak berfungsi melenyapkan kebungkaman ruangan

Tak lagi mati rasa, sekarang aku merasa kedinginan sekaligus gerah

Seperti duka, yang datang dan pergi dengan membawa pertemuan sekaligus pengakhiran

Duka tak pernah lupa membawa pertemuan, karena jiwa-jiwanya yang mengikat rasa itu

Duka juga sekaligus pengakhiran, untuk belajar pemaknaan tentang kembali ke Tuhan


...dari Tuhan, kembali ke Tuhan...


...dari Tuhan, kembali ke Tuhan...


...dari Tuhan, kembali ke Tuhan...

Saturday, October 08, 2011

hanya kata sapa saya saja

aku tidak terlalu mau sendiri
menggarap hati bersama mimpi yang terbang
saat kaki sudah berada di kepalamu
entah kenapa kepalaku tidak mau menoleh untuk melihatnya

mimpiku
hanya terbang tanpa batas
kadang tanpa suara, bersalahku
sunyi
yang meredam
ke semak belukar sesaji
di pedalaman yang jauh

kepingan-kepingan retakan hati yang hampir suci
tinggal setumpuk di kedua tanganku
yang menengadah
tapi sudah lama lusuh
"tolong, kujual ini tuan" sudah berkali kukatakan
tapi tak ada yang mau
"tolong tuan, kujual kelu ini pada Tuhan". . . . .

malam panjang, mimpi mati
seperti saat menanti terang,
mungkin sesekali nanti akan datang orang-orang
yang menolehkan kepalanya
dan tersenyum

kita sudah terlalu lama di sini
bercampur baur dengan wangi kembang yang
makin membusuk
mencoba untuk saling mengadu tentang semua
tentang nasib, tentang penantian dan rindu
dan bertanya terus
mengapa tidak matahari saja yang mengelilingi bumi

takdir
berucap: hanya kata sapa saya saja
kepadamu
dan kita mengeluh
segala hal yang menyangkut kesabaran, kesalahan

dan aku tidak terlalu mau lagi untuk sendiri
menggarap hati bersama mimpi
yang terbang.....
"tuan, kujual ini pada Tuhan".


Samarinda, 18.09.09
11:22 pm

Monday, July 12, 2010

Huh.. (Sebuah Kekacauan tak Lazim dari Kenangan AADC Masa Lampau) Bag. 2

Kujadi maba kemudian senior mbengis
Kujadi heran kemudian terabaiku
Bosan aku dengan kampus
Dan enyah saja kau dosen !
Seperti berjelaga jika kusendiri
Pecahkan saja spionnya biar ramai !
Biar menggoda seluruh gaduh
Sepasang kekasih menyulam jejaring cinta murahan ditembok rektorat putih
Mengapa tak goyahkan saja hatinya biar mendua ?
Atau aku harus lari ke Masjid, belok ke cafe ?*

*) Send To: Jujur Prananto
CC : Rako Prijanto
:D

-aku gak nyontreng- (Sebuah kekacauan Tak Lazim dari Kenangan AADC Masa Lampau) Bag. 1

Sepi.
Sepi dan sendiri aku benci.
Aku ingin bingar aku mau dipasar.
Aku mau beli bawang aku mau ngutang terasi.
biar LEBIH CEPAT LEBIH BAIK
meLANJUTKAN
keinginan PRO RAKYAT
Kulihat tali kutang bulek tempe.
Tetesan keringat jagung tukang becak
dan kuli bangunan
yang bau basi
Tak seperti berjelaga jika kutatap
merah
kuning
Birumu
Di Tivi…..


(08-07-09)
#golputpemilupresiden2009