Showing posts with label Secarik Lirih. Show all posts
Showing posts with label Secarik Lirih. Show all posts

Tuesday, October 21, 2014

ke ti ka

ke ti ka fatwa kau jadikan sebagai alat perebut kuasa

gerombolan anak manusia lacur dalam arus

limbur menggelora

sementara yang lain berlarian dengan kaki berdarah tusukan kaca

aku lelah

dengan hingar bingar teriakan penjual nama

yang menjanjikan masa depan dengan cermin buram masa lalu

yang muram

tak seberapa bersih dari noda

anjing terkekeh bercadar citra

sang raja melolong

mengancam pemilik gua kecil dengan adidayanya

lacak jejak mengalih perhatian seluruh penghuni rimba mala

agar mereka tak mengoceh lagi tentang kesepakatan yang maya

dan janji kian menyublim dalam panas udara

ke mana aku mesti bertanya

perihal cara penghapus duka penanti surga

dan perempuan - perempuan penjual lenguh

yang tertawa dalam rekayasa

saat erangan menjadi lagu abai yang biasa

hanya jadi senandung pengiring mandi pemilik tahta

yang di tanah jerih, yang di langit masih terlena

pun tubuhku zahir - baru bernafas pada masa sabda raja bisa

mematikan sesama saudaranya

masih pedih bersenggama

dengan duka dan luka masa lalu tanpa jeda

Friday, October 14, 2011

B a r a t

Aku ingin selalu berjalan ke arah Barat, perlahan berlari lalu kemudian terbang..... Agar waktuku tak habis dan selalu bertambah jam satu demi satu..... Kukumpulkan, ingin kuhadiahkan sebagai kado ulang tahunmu. Kuharap nanti ketika kamu sudah menjadi orang penting, kita bisa membuka bungkusan kadoku padamu, lalu bersama-sama bercengkerama didalamnya. Tanpa perlu ikatan batas jam kerjamu terganggu. Kita bisa menggila di sana. Bebas. Tidak ada yang bisa melihatnya barang sedetikpun. Karena mereka, orang-orang itu, tidak punya harta seperti isi kado yang telah kupersembahkan kepadamu. Walaupun untuk itu aku harus selalu kembali ke masa lalu untuk mengais sisa-sisa remahan waktuku yang terbuang cuma-cuma dulu. Dengan atau tanpa sadar, aku melakukannya hanya untuk kita. Tanpa pura-pura. Ssshut!

(untuk semua orang yang kusayangi dan tidak lagi ada di bumi)

Friday, July 16, 2010

tanpa tanda baca, sampah

cemas memaksa keheningan menyeruak antara daun daun hati antara kelengangan siang terik mata surya menanamkan peluh sembari membunuh wajah subuh dengan dekapan malaikatpun bingung harus terbang kemana sementara sayapnya telah lusuh oleh banjir dengan suara suara lengkingan tangis yang keluar dari mulut dan jiwa jutaan manusia yang merasa merana mencari jalan lain memaki hidup tidak ada fikir yang benar benar dingin semenjak itu ketika jeda jeda mulai hilang oleh cepatnya pergeseran waktu tanpa ada sentuh kompromi terbakar maruk sebagian juta manusia tanpa hati membuat malaikat dan sayap lusuhnya terpaksa menyeretkan langkah memantau pekerjaan manusia lalu tiba tiba sayapnya tersangkut tali jemuran yang mengambang di air merobek lembutnya dan mematahkan ranting ranting kecil kebanggaan terundang kecewa dan sesal kenapa harus berada disana entah apa lagi yang bisa diharap pada semua ego ego yang ingin menjalar kesemak semak kehidupan sampah buah kelakuan sampah dari perangai sampah di kota itu malaikat kedinginan dan kulit kulitnya mengerut lain lagi tentang rumah sakit yang penuh dengan penderita demam berdarah akibat limbah itu juga sekian bantuan belum ada cukupnya ingin malaikat suci memopoh seorang laki laki tua renta diatas pagar kasarnya tapi terhalang oleh deras arus air bah dengan kotornya warna kecoklatan menyapu datar menghempas puing puing harta harapan yang seakan masih bersemayam dalam mimpi saat kecil sambil dinyanyikan lagu pengantar tidur lelah yang membuat buta tapi alam saja tidak lelah malah makin menjadi malaikat memandang seseorang terbawa arus air sedang diatasnya ada banyak manusia yang tidak satupun dari mereka mau menyelamatkan mungkin begitulah perasaan malaikat yang berhati bersih kaki kaku melangkah bibir kelu merintih pedasnya tatapan menghina pada penampilannya yang menurut mereka terlalu aneh dan miskin ya malaikat miskin bagaimana bisa ia membantu sedang membawa dirinya dibumi saja sudah sesuatu yang benar benar menyiksa, air..... air..... dan air.....

Wednesday, May 28, 2008

sebuah . . . . . [bag.1]

. . . . . ngantuk hanyalah kata untuk menyatakan kelelahan pada kenyataan dan kerinduan pada imaji . . . . .
Lalu akupun terlelap . . . . .
ketika membuka mata sudah berada di sebuah tempatyang teramat asing . . . . .
asing sekali . . . . .
adapun hal-hal yang kulihat disana diantaranya:
setiap orang terlihat menjadi pahlawan entah itu pura-pura atau benar-benar {1};
seuanya menggunakan topeng yang menutupi seluruh wajahnya (bahkan mata dan telingapun mereka tutupi dengan topeng) kecuali lubang hidung untuk menyedot nafas, mulut merekapun dipindah lokasikan diatas kepalanya{2};
semua mulut mengeluarkan asap yang membuat sesak nafas sesamanya sampai mati {3};
anggapan bahwa kepala orang lain adalah pegas {4};
karena semuanya menjadi pahlawan, maka mereka tidak mengerti tentang siapa yang jadi penjahatnya {5}; . . . . .
. . . . .
. . . . .
Perjalananku di tempat itu lanjut lagi . . . . .
serasa masuk kedalam ketidak-berdayaan-jiwa yang tak terhingga. Sampai matahari hanya bisa melongo. Suara hanya bisa melenguh keluh. Cahaya hanya bisa terbias.
ketidak mengertian tentang siapa yang menjadi penjahatnya . . . . .