Monday, September 17, 2012
Wednesday, September 12, 2012
Saturday, September 01, 2012
Jika dengan Jancuk pun Tak Sanggup Aku Menjumpaimu
jika dengan jancuk pun tak sanggup aku menjumpaimu
dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu
kau melengos dalam kajang lilin pertama
bulan berbunga di pucuk mahoni
ketika itu
dalam pasang sepiku
rindu bertikai tak pernah jerih
terhempas gelombang atas huma
kau tergelincir berpasang tawa
di sungai ciwulan
kampung naga
tasikmalaya
banyak orang pacaran
seabreg orang menikah
tapi segelintir yang sempat mengalami cinta
kini apa yang dapat teranyam dari anjing menggonggong
alas pandan wangi adalah anyam-anyaman duka citamu
sebelum langit menggulung tikar
sebelum desau mengulum kekasihmu yang menggelayut di ranting hujan
abad berlalu
desirnya nyiur menghadang buih
deburnya kungung di bui bunyi
tanpa jeruji
tanpa kasasi
hatimu beringas melembah ngarai
berlarian tak tentu kiblat
lebih bergegas ketimbang gema
o, andai sombong diperbolehkan
sudah tentu akan kusombongkan agama bapakku
dan jika dengan jancuk pun tak sanggup aku menjumpaimu
dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu
Sujiwo Tejo, 2011
dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu
kau melengos dalam kajang lilin pertama
bulan berbunga di pucuk mahoni
ketika itu
dalam pasang sepiku
rindu bertikai tak pernah jerih
terhempas gelombang atas huma
kau tergelincir berpasang tawa
di sungai ciwulan
kampung naga
tasikmalaya
banyak orang pacaran
seabreg orang menikah
tapi segelintir yang sempat mengalami cinta
kini apa yang dapat teranyam dari anjing menggonggong
alas pandan wangi adalah anyam-anyaman duka citamu
sebelum langit menggulung tikar
sebelum desau mengulum kekasihmu yang menggelayut di ranting hujan
abad berlalu
desirnya nyiur menghadang buih
deburnya kungung di bui bunyi
tanpa jeruji
tanpa kasasi
hatimu beringas melembah ngarai
berlarian tak tentu kiblat
lebih bergegas ketimbang gema
o, andai sombong diperbolehkan
sudah tentu akan kusombongkan agama bapakku
dan jika dengan jancuk pun tak sanggup aku menjumpaimu
dengan air mata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu
Sujiwo Tejo, 2011
Sunday, April 22, 2012
Next Game, Nobody Want to Lose
Steffan Harrson, pelatih sepak bola
Tim Mitra Kukar memang bule. Malam itu kira kira pukul 22 Wita. Kami
berkumpul di sebuah ruangan dan Steffan Harrson terus bicara dengan
casciscus Bahasa Inggrisnya. Konfrensi pers seperti biasa, tiap kali
permainan di LSI berakhir. Ini sekian kalinya saya meliput sepak bola.
Dan sekian kalinya juga tidak terlalu perhatian dengan si pelatih.
Beberapa media dengan seksama mendengarkan. Hm... tidak terlalu seksama
sepertinya. Beberapa terlihat mengantuk, beberapa mengetik BBM (mengetik
pesan di BBM, bukan mengetik berita di BB), dan tak jarang pada
konfrensi pers seperti ini ada saja awak media yang mendengarkan sambil
bermain Angry Bird. Kali ini, saya mendengarkan sambil makan kacang.
Kacang goreng kulit berbungkus plastik transparan, model jadul, yang
saya dapat dari seorang Oom tak dikenal. Sewaktu meliput, Oom itu duduk
di samping saya membelikan kacang dan Teh Kotak. Suasana konfrensi pers
sepak bola yang skornya 1-0 pastilah garing. Lagipula saya tidak
mengerti dia ngomong apa. Pun setelah penerjemahnya mengartikan dalam
Bahasa. Saya tidak begitu mengerti sepak bola. Beberapa awak media cetak
terlihat masing-masing sibuk dengan kameranya. Bisa diterka foto itu
sebagian besar hanya untuk dokumentasi. Karena koran maupun situs online
jauh lebih tertarik memuat foto action di lapangan. Teman - teman dari
media televisi terlihat hanya manggut-manggut. Tak niat merekam karena
kemungkinan besar juga tidak akan tayang. Salah seorang teman saya,
wartawan media cetak, namanya Bayu. Saya memanggil mereka semua dengan
sebutan 'Abang' di awal nama. Bukan karena saya paling muda, tapi karena
takut kualat. Bang Bayu berdiri di samping saya, sibuk sendiri dengan
kameranya. Bosan, ia diam sejenak.
Saya: Bang, dari tadi dia ngomong apa sih?
Bang Bayu: Hehehehehehe..
Saya: Emang abang ngerti dia ngomong apa?
Bang Bayu: Kadak tahu! (baca: enggak tahu, Banjarnese)
Saya: Saya sih dari tadi dia ngomong panjang lebar saya cuma paham satu kalimat doang.
Bang Bayu: Apa?
Saya: "Nobody want to lose"
Bang Bayu: Oh, aku juga. Aku tahu satu kalimat.
Saya: Apa?
Bang Bayu: "Next game" :D
Saya: ..................... :|
Saturday, April 14, 2012
Cerita Perempuan-Perempuan Perkasa: Rina E.M. Pengayom Orang Gila
Pengeluaran Rp 1 Juta Per Hari, Sembuhkan 700 Pasien
Perempuan berkulit cerah, kuning langsat, tersenyum menjamu siapapun
yang datang ke tempat tinggalnya. Sebuah tempat tinggal, sekaligus wadah
menampung lebih dari 100 penderita gangguan jiwa alias orang gila.
HARLINDA, Samarinda
DIA berparas manis, bermata agak sipit. Rambutnya hitam lurus. Postur
tubuhnya sedang, tak kurus tak juga gemuk. Wajahnya tampak terlalu muda
untuk perempuan yang sudah menjanda. Namanya Rina Efline Mangkey yang sering pula disebut Rina Yohan. Dia
mempunyai kegiatan yang bisa dikategorikan langka. Rina tinggal bersama
107 orang yang mengalami gangguan jiwa, dalam satu rumah, sejak 12 tahun
lalu.
Rumah kayu tersebut terletak di Jalan Rimba No 14, Kecamatan Sungai
Kunjang, Samarinda. Letaknya tidak tepat di sisi jalan, melainkan
menjorok ke dalam, jalannya berbatu. Ada pagar kayu tinggi bertuliskan
Lamin Adulam. Itulah rumah yang dijadikan penampungan penderita gangguan jiwa yang
dikelola Rina. Luasnya sekitar 175 x 300 meter persegi. Namanya Lamin
Adulam. Berdiri di bawah Yayasan Join Adulam Ministry (JAM). Yayasan itu
berdiri sejak 1999.
Rina selalu turun tangan mengerjakan segala hal terkait kebutuhan para
penderita gangguan jiwa yang disebutnya sebagai pasien. Menurutnya,
penderita gangguan jiwa itu adalah orang-orang terlupakan. Orang-orang
yang seringkali tidak diingat keluarga, tidak dijenguk, bahkan dibuang
ke jalanan.
Rina mengatakan, apa yang dilakukannya selama ini bentuk pelayanan
terhadap sesama manusia dan Tuhan. Hampir 3 tahun dia ditinggal
suaminya, Pendeta Yohanes Ruben Dengah, menghadap sang Khalik. Sejak
itu, Rina seorang diri mengumpulkan kekuatan memimpin yayasan yang
semula dikelolanya bersama suami.
Terhitung sejak awal berdiri, 700 orang telah keluar dari yayasan
milik Rina. Mereka semua dinyatakan sembuh total. Padahal tak banyak
staf yang membantu proses penyembuhan.
Staf yang hanya berjumlah 6 orang bergantian bahu membahu merawat
pasien. Tanpa mengacu pada pengobatan medis, melainkan pendekatan
personal secara kekeluargaan. “Hanya sesekali kami memberi obat medis,
misalnya obat penenang. Itu pun ketika pasien mengamuk atau sakit
fisiknya,” ujar Ita, salah satu staf yayasan. Ita mengungkapkan kesannya terhadap Rina selama ini. “Bu Rina orangnya
baik sekali. Rendah hati, dan yang paling saya salut beliau tidak pernah
menyerah,” katanya.
Sejak suaminya meninggal, Rina dikenal para stafnya sebagai perempuan
yang kuat untuk bangkit dari masalah. Kasih dan motivasi yang besar
ditularkannya kepada seluruh staf yang sudah dianggapnya sebagai anak
asuh.
“Beliau memiliki prinsip dan sifat semua orang di dekatnya bisa berubah menjadi positif,” ujar Ita.
Berbagai masalah sering menerpa Rina dalam memperjuangkan yayasannya.
Walaupun demikian, dia selalu menghadapi masalah dengan sabar dan tetap
mendekatkan diri kepada Tuhan. “Sebagai manusia, rasanya saya memang
tidak mampu menjalankan semua ini, tapi tidak ada yang tidak mungkin di
mata Tuhan,” ujarnya.
Kebutuhan akan bahan-bahan pokok seperti makanan dan pakaian bagi para
pasien membuat Rina harus berpikir pintar. Tiap hari tak kurang Rp 1
juta dihabiskan untuk kebutuhan pasien. Tanpa bantuan pemerintah, Rina
harus berfikir keras menghidupi pasien dan para stafnya. Ia berpendapat banyaknya rintangan yang terjadi justru membuatnya
semakin kreatif. Dia pun rajin menjalin hubungan sosial. Hasilnya, para
donatur datang dengan sendirinya membantu kegiatan Rina. Beberapa pihak
telah menjadi donatur tetap.
“Para donatur kebanyakan tahu dari mulut ke mulut. Saya bersyukur tidak
dipromosikan saja donatur banyak yang berdatangan,” ucapnya dengan mata
berkaca-kaca. Tak hanya para pekerja, mahasiswa pun kadang menjadi donatur, entah dalam bentuk makanan maupun pakaian bagi para pasien.
Selain memperoleh pasokan dari donatur, para staf JAM juga membuat
beberapa kerajinan tangan berbentuk gantungan kunci maupun bingkai foto.
Proses pembuatan kerajinan tangan ini juga dibantu oleh beberapa pasien
yang sudah bisa “dikendalikan”. Mereka lalu menjualnya kepada
pengunjung Lamin Adulam.
Semangat yang ditularkan mendiang suami membuatnya bertahan sampai
sekarang. Meski mengakui pengalaman ditinggal suami adalah cobaan
terberat, namun Rina tetap tegar menyambut hari esok.
“Suami saya selalu mengatakan, kami pasti bisa. Saya hanya punya
prinsip dan kemauan, tapi Tuhan yang melakukan semuanya,” ujar Rina.
Tiap hari dia mengisi waktu dengan memfokuskan diri mengurusi para
pasien. Dibantu 6 orang staf, mereka bekerja dari memandikan hingga
mengatur menu maupun jadwal makanan para penderita gangguan jiwa
tersebut. Bahkan ada beberapa penderita gangguan jiwa yang bisa membantu
melakukan pekerjaan rumah seperti halnya mencuci baju, mencuci piring,
dan menyapu lantai. Dalam satu hari, pasien dibebaskan dua kali bermain
di halaman rumah yang berlantaikan semen.
Yayasan ini punya cara tersendiri agar penderita gangguan jiwa tidak
bertambah stres. Yakni, dengan membiarkan mereka bermain dan
mendengarkan lagu rohani.
Ibu dua anak ini mengaku jarang keluar rumah. “Kecuali ada keperluan
mendesak atau acara penting,” katanya. Anaknya yang berusia 15 dan 14
tahun masing-masing laki-laki dan perempuan tidak membuatnya kerepotan.
Anak tertuanya bernama Yeremia Covicar Dengah, siswa Sekolah Menengah
Teologi Kristen Bethel, Jakarta. Sedangkan si bungsu Hadassah Covicar
Dengah duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Samarinda. “Mereka
sudah mandiri dan pintar mengurus diri sendiri,” tambahnya. (*/lin)
)* Diterbitkan di surat kabar harian Kaltim Post, Kamis, 8 Januari 2011
Thursday, April 12, 2012
Steal Like an Artist!
Foto foto yang saya "curi" dari blog pribadi Austin Kleon, penulis buku Steal Like an Artist. Selamat membaca, memahami, dan mengilhami ;)

Subscribe to:
Posts (Atom)










